Jumat, 24 Februari 2017

JURNAL Kenakalan Remaja dalam Pendidikan


KENAKALAN REMAJA DALAM PENDIDIKAN

Arum Putriana Dewi
IAIN Tulungagung, Jln Mayor Sujadi Timur 46 Tulungagung,
e-mail: arumputriana2@gmail.com

Abstrak
Kenakalan remaja sekarang ini semakin meresahkan masyarakat baik di kota kota besar maupun di desa desa kecil banyak kasus kenakalan yang dilakukan oleh remaja, maraknya kenakalan remaja di Indonesia semakin menambah kasus kriminalitas yang sebelumnyapun sudah banyak yang menjadikan kenakalan remaja menjadi masalah nasional, di Indonesia sendiri kenakalan remaja sudah menjadi masalah sosial yang sangat meresahkan masyarakat banyak karena tindakan tindakan mereka yang sudah tidak lagi mengenal norma-norma di mayarakat.
 Faktor-faktor yang menyebabkan kenakalan remaja ada dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal, faktor internal adalah faktor yang timbul dari dalam anak remaja tersebut sedangkan faktor eksternal adakah faktor yang timbul karena kondisi lingkungan didalam kenakalan remaja sendiri masih banyak jenis tindakan kriminal yang biasanya dilakukan oleh anak-anak remaja yaitu pencurian, penipuan, pembunuhan, penyalah gunaan narkoba dan tawuran.
Tujuan adanya penelitianiniadalahuntuk mengetahui bagaimana proses belajar mengajar dalam pendidikan. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode kepustakaan. Data ini diperoleh dari pembacaan buku-buku Sosiologi Pendidikan dan penelitian dibeberapa pelajar Sekolah menengah atas, sekolah menengah bawah.Kajian ini dilakukan pada bulan juni 2015. Berdasarkan hasil diskusi yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa 1) proses pendidikan sangat penting bagi anak bangsa , 2) beberapa masalah yang menghambat proses pendidikan 3) solusi untuk mengatasi permasalahan proses belajar.

Abstrack
          A  Juvenile delinquency is now increasingly disturbing public both in big cities and small villages in many cases committed by juvenile delinquency, the rise of juvenile delinquency in Indonesia progressively increased crime cases that have previously been many who make juvenile delinquency became a national issue, in Indonesia itself delinquency teenagers has become a social problem that is very troubling many people because of the actions of their actions which are no longer familiar with the norms in society.
 The factors that cause juvenile delinquency there are two internal factors and external factors, internal factors are factors that arise from within the teenage son while external factors are there factors that arise due to environmental conditions in juvenile delinquency itself there are many types of criminal activity that is usually carried out by adolescents are theft, fraud, murder, drug abuse and fighting.
The purpose of this study was to determine how the process of learning and teaching in education. The method used in this paper is the method of literature. This document is obtained from reading books sociology of education and research in several high school students, middle school down. The study was conducted in June 2015. Based on the discussions can be concluded that 1) the education process is very important for the children of the nation, 2) some of the problems that hinder the educational process 3) solution to overcome the problems of the learning process.
Kata Kunci: Kenakalan remaja dalam Pendidikan , Pandangan Kriminolog dan Solusinya.
Pendahuluan
Pendidikan pada saat ini sedang menghadapi berbagai macam masalah. Globalisasi yang melanda dunia yang diikutidenganperkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan yang sangat pesat, telahmengakibatkanterjadinyaperubahan di segalabidang. Dengan adanya perubahan itu dunia pendidikan diharuskan dan dituntut dapat memberikan kontribusi riil yang berupa kemampuan peningkatan kualitas hasil, pelayanan pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat. Salah satu masalahnya adalah kenakalan remaja. Dengan adanya permasalahan ini proses belajar mengajar mengalami hambatan. 
Para remaja adalah generasi penerus dari bangsa. danpara remaja semestinya harus di agar memiliki kemampuan untuk meneruskan memimpin bangsa supaya dapat bersaing dengan negara maju. Namun apa jadinya jika kaum remaja yang semestinya jadi penerus bangsa malah berkelakuan melenceng dari norma-norma masyarakat, itulah sering kita temui saat ini banyak kaum remaja yang melanggar norma yang telah di tentukan di masyarakat atau biasa kita sebut kenakalan remaja tidak hanya di kota-kota besar saja kita biasa temui, namun di desa-desa pun sekarang banyak kita jumpai kasus kenakalan remaja.
Kenakalan remaja semestinya harus di tangani dengan cepat supaya kenakalanya tidak menjadi ekstrim. Karena tindakan yang sudah jelas sudah melanggar norma agama. Karena telah kita ketahui bahwa kenakalan ramaja bisa menurunkan moral diri kita atau pun bangsa kita, maka dari itu perlu tindak nyata untuk membrantas kenakalan remaja.Kenakalan membuat resah bayak orang ataupun khalayak banyak itu sudah termasuk masalah sosial termasuk kenakalan remaja yang banyak melibatkan anak-anak muda yang sudah tidak mengenal lagi norma-norma di masyarakat yang biasanya bersifat merusak, tentu hal ini tidak bisa dimaklumi, hal ini harus di tindak lanjuti dengan cepat.
MetodePenulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan  studi ini adalah kepustakaan. Data primer diperoleh dari pembacaan buku-buku sosiologi pendidikan dan penelitian pada beberapa pelajar sekolah menengah atas dan sekolah menengah bawah. Kajian dilakukan pada bulan juni 2015 dengan melibatkan beberapa teman yang membantu tercapainya penulisan jurnal sosiologi pendidikan ini. Pada tahap awal, penulis berupaya mengumpulkan materi dari berbagai bidang yang menyangkut pendidikan dan sosiologi yang berkembang, kemudian disusun dalam bentuk naskah teks.


Hasil kajian dan pembahasan
Pendidikan merupakan suatu proses perkembangan kecakapan seseorang dalam bentuk sikap dan perilaku yang berlaku dalam masyarakat dan proses sosial di mana seseorang dipengaruhi oleh suatu lingkungan yang terpimpin misalnya sekolah sehingga dia dapat mencapai kecakapan sosial dan mengembangkanya.
Menurut Undang-undang Sisdiknas No. 20 tahun 2003, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan pross pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat (Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003).
Tujuan Pendidikan merupakan salah satu  faktor yang terpenting di dalam pendidikan, karena tujuan adalah merupakan salah satu arah yang hendak dicapai atau yang hendak dituju oleh pendidikan. Begitu juga dengan penyelenggaraan pendidikan yang tidak dapat dilepaskan dari sebuah tujuan yang hendak dicapaianya. Tujuan pendidikan adalah meningkatkan derajat kemanusiaan manusia (Tafsir, 2006: 47).
Tujuan pendidikan nasional perumusannya  dapat memberikan arah yang jelas bagi setiap usaha pendidikan di negara Republik Indonesia. Untuk dapat mencapai tujuan pendidikan nasional tersebut, dibutuhkan adanya lembaga-lembaga pendidikan yang masing-masing mempunyai tujuan tersendiri, yang selaras dengan tujuan nasional. Oleh karena itu, setiap usaha pendidikan di Indonesia tidak boleh bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional, bahkan harus menopang atau menunjang tercapainya tujuan tersebut. (Zuhairini, Abdul Ghofir, 2002).
Pendidikan usia dini (PAUD) maupun Taman Kanak-Kanak (TK), anak-anak Indonesia sudah harus mulai diajarkan materi agama di sekolah, ketika usia SD/MI sampai Perguruan Tinggi (PT), tetap diharuskan ada mata kuliah Civic Education. Tetapi riil di lapangan kita masih banyak melihat para siswa mencontek, curang, bolos, tawuran antar siswa, ngebut-ngebutan. Kenakalan remaja ini merupakan hambatan untuk proses belajar mengajar disekolah. Pada saat ini juga banyak remaja yang  keluar dari dunia pendidikan tetapi malah memilih untuk bekerja, disamping itu pemikiran belum stabil karena masa remaja adalah masa dimana seorang manusia sedang berada dalam pencarian jati dirinya, ingin mengenal siapa dirinya sebenarnya. Seorang manusia dikatan remaja, jika ia sudah menginjak usia 17 tahun. Dan dalam usia ini, seorang manusia mengalami masa yang dinamakan masa pubertas. Saat pubertas, biasanya manusia ingin mencoba segala suatu yang baru dalam hidupnya, muncul berbagai macam gejolak emosi, dan banyak timbul masalah baik dalam keluarga maupun lingkungan sosialnya.
Menurut ahli sosiologi Kartono, Kenakalan Remaja atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah juvenile delinquency merupakan gejala patologis sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial. Akibatnya, mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang. Sedangkan menurut Santrock “Kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal.”
            Bentuk kenakalan remaja lainnya yang meresahkan masyarakat antara lain : Narkoba, free sex, tawuran, pergaulan bebas, dll. Kenakalan remaja kebanyakan dilakukan oleh mereka yang gagal dalam mengembangkan emosi jiwanya, mereka tidak bisa menahan diri terhadap hala baru yang masuk ke dalam dirinya, yang menimbulkan sikap yang tidak seharusnya dilakukan.
Karakteristik perkembangan emosi remaja sejalan dengan perkembangan masa remaja itu sediri,yaitu sebagai berikut :

1.        Perubahan fisik tahap awal pada periode praremaja disertai sifat kepekaan terhadap rangsangan dari luar menyebabkan respons berlebihan sehingga mereka mudah tersinggung dan cengeng,tetapi juga cepat merasa senang atau bahkan meledak-ledak.
2.        Perubahan fisik yang semakin jelas pada periode remaja awal menyebabkan mereka cenderung menyendiri sehingga tidak jarang merasa terasing,kurang perhatian dari orang lain,atau bahkan merasa tidak ada orang yang mau mempedulikannya.
3.        Periode remaja sudah semakin menyadari pentingnya nilai-nilai yang dapat dipegang teguh sehigga jika melihat fenomena yang terjadi dimasyarakat yang menunjukkan adanya kontradiksi dengan nilai-nilai moral yang mereka ketahui menyebabkan remaja seringkali secara emosional ingin membentuk  nilai-nilai mereka sendiri yang mereka anggap benar,baik,dan pantas untuk dikembangkan di kalangan mereka sendiri.Lebih-lebih jika orang tua atau orang dewasa disekitarnya ingin memaksakan nilai-nilainya.
4.        Periode remaja akhir mulai memandang dirinya sebagai orang dewasa dan mulai mampu menunjukkan pemikiran,sikap,dan perilaku yang semakin dewasa.Oleh sebab itu,orang tua dan masyarakat mulai memberikan kepercayaan yang selayaknya kepada mereka.Interaksi dengan orang tua juga menjadi semakin lebih bagus dan lancar karena mereka sudah semakin bebas penuh serta emosinya pun mulai stabil.
  Faktor-faktor yang mennyebabkan Terjadinya Kenakalan Remaja
Kenakalan remaja adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh remaja dan tindakanya sudah melewati norma-norma yang telah di tentukan di masyarakat. Dan suatu wujud dari konflik yang tidak terselesaikan dengan baik pada masa kanak-kanak maupun pada saat remaja.Kenakalan remaja adalah pelampiasan masalah yang dihadapi oleh kalangan remaja yang tindakannya menyimpang.
Sebenarnya, kenakalan remaja bisa di minimalisir dari pihak sekolah dan pihak orang tua. Pada umumnya kenakalan remaja di pengaruhui oleh dua faktor yaitu faktor kurangnya pendidikan spiritual dan moral dan faktor lingkungan sekolah yang tidak nyaman dan aman.
Kurangnya pendidikan spiritual dan moral sangat mempengaruhi perilaku si anak karena dia kurang di berikan tentang pentingnya melakukan hal yang bersifat kebaikan, kebanyakan di sekolah hanya diberikan pelajaran mengenai bahasa, matematika dan ekonomi tanpa memperdulikan pendidikan moral, tanpa pendidikan spiritual dan moral ini remaja akan lebih mudah terpengaruh dengan hal-hal buruk yang sifatnya merusak seperti tawuran antar pelajar, perkelahian dan pencurian.
Lingkungan sekolah yang tidak nyaman. Maksudnya adalah ketidakcocokan si anak dengan peraturan di sekolah tersebut ataupun banyak teman-temanya di sekolah yang kerap berantem, hal tersebut sagat mempengaui perilaku si anak tersebut, contohnya jika di sekolahan tersebut kerap ada pemerasan dari kakak kelas kepada bawahanya hal tersebut akan membawa pikiran dari si anak yang di peras ini memiliki rasa balas dendam dan balas dendam tersebut di lampiaskan kepada bawahanya lagi setelah dia sudah menjadi senior dan terus berulang, maka dari itu pihak sekolah semestinya harus memantau siswanya lebih ketat lagi.
Faktor lain yang diantaranya Kenakalan remaja itu terjadi karena beberapa faktor, bisa disebabkan dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar (eksternal).
1.     Faktor Internal (diri sendiri)
  • Krisis identitas: Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.
  • Kontrol diri yang lemah: Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku ‘nakal’. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.
2.     Faktor Eksternal (dari luar)
Keluarga dan Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.
Pengaruh Keluarga Broken Home pada Anak
1. Perkembangan Emosi Anak
Adapun dampak pandangan kelurga broken home terhadap perkembangan emosi remaja menurut Wilson Madeah (1993 : 42) adalah : Perceraian orang tua membuat terpramen anak terpengaruh, pengaruh yang tampak secara jelas dalam perkembangan emosi itu membuat anak menjadi pemurung, pemalas (menjadi agresif) yang ingin mencari perhatian orang tua / orang lain. Mencari jati diri dalam suasana rumah tangga yang tumpang dan kurang serasi
2. Perkembangan Sosial Anak
Menurut Brim (dalam Elida Prayitno. 2006 : 81) “Tingkah laku sosial kelompok yang memungkinkan seseorang berpartisipasi secara efektif dalam kelompok atau masyarakat.
Dampak keluarga Broken Home terhadap perkembangan sosial Anak menurut Sunggih D Gunawan 1995 : 108 adalah :
Perceraian orang tua menyebabkan tumbuh pograan infenority terhadap kemampaun dan kedudukannya, dia merasa rendah diri menjadi takut untuk meluarkan pergaualannya dengan teman-teman.
3. Perkembangan Kepribadian Anak
Perceraian ternyata memberikan dampak kurang baik terhadap perkembangan kepribadian anak.\Menurut Westima dan Haller (dalam Syamsyu Yusuf 2001 : 99) yaitu bahwa remaja yang orang tuanya bercerai cenderung menunjukkan ciri-ciri :
a. Berpilaku nakal
b. Mengalami depresi
c. Melakukan hubungan seksual secara aktif
d. Kecenderungan pada obat-obat terlarang
4. Mengatasi Broken Home
1.Berpikir positif
2.Mencoba hal-hal baru
3.Cari tempat untuk berbagi
  • Teman sebaya yang kurang baik
Contoh dari teman sebaya yang kurang baik adalah dari faktor perbedaan persepsi atau pendapat, misalnya berbeda pendapat dengan anak yang lain mereka tanpa kpmpromi hal itulah yang menyebabkan tawuran antar pelajar bisa terjadi, pelajar yang semestinya belajar malah menjadikan tawuran sebagai kebiasaan. Terkadang juga ada anak yang tidak suka dengan temannya lalu ia menjelek-jelekan temannya itu kepada teman lainnya.
  • lingkungan tempat tinggal yang kurang baik.
lingkungan kurang tepat yang menyebabkan si anak terpengaruh dari pergaulan teman-temanya ataupun lingkunganya karena jika si anak sudah terpengaruh dalam pergaulan yang dia jalani susah untuk merubahnya lagi seperti contohnya jika si anak tersebut berteman atau tinggal di tempat berkumpulnya para pencuri secara otomatis si anak tersebut akan meniru perilaku mencuri yang di lakukan seperti para temanya.
          Sedangkan  menurutKumpferdan Alvarado, FaktorfaktorPenyebabkenakalanremajaantara lain  :
a. Kurangnyasosialisasidariorangtuakeanakmengenainilai-nilai moral dansosial
b. Contohperilaku yang ditampilkanorangtua (modeling) di rumahterhadapperilakudannilai-nilai anti-sosial.
c.Kurangnyapengawasanterhadapanak (baikaktivitas, pertemanan di sekolahataupun di luarsekolah, danlainnya).
d. Kurangnyadisiplin yang diterapkanorangtuapadaanak.
e. Rendahnyakualitashubunganorangtua-anak.
f. Tingginyakonflikdanperilakuagresif yang terjadidalamlingkungankeluarga.
g. Kemiskinandankekerasandalamlingkungankeluarga.
h. Anaktinggaljauhdariorangtuadantidakadapengawasandarifigurotoritas lain.
i. Perbedaanbudayatempattinggalanak, misalnyapindahkekota lain ataulingkunganbaru.
j. Adanyasaudarakandungatautiri yang menggunakanobat-obatterlarangataumelakukankenakalanremaja.
Cara mengatasi kenakalan remaja dalam pendidikan maupun masyarakat
Kenakalan remaja ini membutuhkan bantuan dari semua elemen masyarakat ikut serta dalam penanggulangan kenekalan remaja karena kenekalan remaja banyak menimbulkan kerugian dan kesengssaraan yang tidak hanya merugikan diri sendiri melainkan merugikan khalayak banyak, hal inilah yang semestinya mendorong masyarakat dan pemerintah melakukan tindakan untuk menangulangi secara kuratif. seperti membentuk badan kesejahteraan anak-anak, perbaikan lingkungan yaitu kampung-kampung miskin dan kumuh, mendirikan sanggar-snggar untuk remaja guna mensosialisasikan tentang baha kenakalan remaja, menyusun undang-undang tentang tindakan pelanggaran yang dilakukan oleh remaja, membuat sekolah untuk anak jalanan, mendirikan tempat untuk menyalurkan kreatifitas yang di miliki remaja dan para anak jalanan.
Di Negara-negara maju memiliki teknik penanggulangan dengan cara Moralistic dan Abolisianistik. Cara moralistic adalah dengan penyebarluaskan ajaran agama dan moral sedangkan cara abolisianistik adalah berusaha memberantas kajahatan dengan memberantas sebab musabab dari kejahatan tersebut.
Sebenarnya masyarakat,pemerintah dan keluarga dalam penanganan kasus kenakalan remaja ini hanya sebagai perantara atau sekedar membantu, sebenarnya kesadaran dari diri sendiri untuk tidak melakukan kenakalan renaja itulah hal paling penting di sini dalam upaya penanggulangan kenakalan remaja. Tetapi faktor lingkungan juga memiliki peran yang penting karena anak remaja akan mengikuti kebiasaan dari lingkungan tersebut. Keteladanan yang baik dari lingkungan sekitar akan membawa anak menjadi lebih termotifasi untuk melakukan hal yang baik pula dan mampu mengikuti hidup bermasyarakat.
Memberikan pendidikan yang sesuai adalah merupakan salah satu tugas bagi orangtua kepada anak,agar anak dapat memperoleh pendidikan yang sesuai, pilihkanlah sekolah yang bermutu. Selain itu, perlu dipikirkan pula latar belakang agama pengelola sekolah. Hal ini penting untuk menjaga agar pendidikan agama yang telah diperoleh anak di rumah tidak kacau dengan agama yang diajarkan di sekolah. Berilah pengertian yang benar tentang adanya beberapa agama di dunia.Ketika anak telah berusia 17 tahun atau 18 tahun yang merupakan akhir masa remaja, anak mulai akan memilih perguruan tinggi. Orangtua hendaknya membantu memberikan pengarahan agar masa depan si anak berbahagia. Arahkanlah agar anak memilih jurusan sesuai dengan kesenangan dan bakat anak, bukan semata-mata karena kesenangan orang tua. Masih sering terjadi dalam masyarakat, orangtua yang memaksakan kehendaknya agar di masa depan anaknya memilih profesi tertentu yang sesuai dengan keinginan orangtua. Pemaksaan ini tidak jarang justru akan berakhir dengan kekecewaan. Sebab, meski memang ada sebagian anak yang berhasil mengikuti kehendak orangtuanya tersebut, tetapi tidak sedikit pula yang kurang berhasil dan kemudian menjadi kecewa, frustrasi dan akhirnya tidak ingin bersekolah sama sekali. Mereka malah pergi bersama dengan kawan-kawannya, bersenang-senang tanpa mengenal waktu bahkan mungkin kemudian menjadi salah satu pengguna obat-obat terlarang.
Kesimpulan
Dari analisis di atas dapat kita simpulkan bahwa
1.       kenakalan remaja adalah cerminan dari perbuatan orang dewasa juga sehingga anak remaja sering meniru perbuatan apa yang di lakukan oleh orang dewasa dan juga lingkungan di mana mereka hidup setiap hari di lingkungan tersebut, jika lingkungan tersebut tidak baik atau sering terjadai kekerasan maka perbuatan itu akan di tiru juga oleh para anak remaja.
2.       Ada dua faktor yang menyebabkan kenakalan remaja faktor eksternal, selain faktor tersebut ada juga faktor internal, yaitu faktor yang berasal dari dalam hati nurani si korban tersebut. Tentu pemerintah dan masyarakat membutuhkan upaya yang lebih keras dalam memerangi kenakalan remaja di Indonesia guna memwujudkan generasi emas. Guna memberantas masalah tersebut, anak remaja itu sendiri semestinya harus melakuan inrtopeksi diri atas semua hal yang yang telah dilakukan itu adalah salah.
3.       Pemerintah, masyarakat, orang tua dan diri sendiri juga memiliki tugas yang amat besar salah satunya adalah membangun tempat tempat untuk melakukan sosialiasi untuk memberitahu kepada para remaja tentang bahayanya tindakan kenakalan remaja dan kriminalitas. Sehingga para anak remaja mengetahui mana yang salah dan mana yang baik sehingga kenakalam remaja dapat di minimalisir. Setidaknya jika para penerus banggsa ini bersih dan paham mana yang salah dan mana yang benar mungkin bangsa ini bisa lebih baik dari sekarang.
Daftar Rujukan
Drs. Sudarsono. S.H., M. (2004). Kenakalan Remaja. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Ghofir, Zuhairini Abdul, 2001. Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, Malang: UM Press
S. Nasution. 2014. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara
Tafsir, Ahmad, 2006. Filsafat Pendidikan Islam: integrasi Jasmani, Rohani Dan Kalbu Memudahkan Manusia, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Dave. (2013). "faktor penyebab kenakalan remaja” diunduh dari (http://memswave2012.org/faktor-penyebab-kenakalan-remaja/), Pada 23 Desember 2013

Maulidyani, D. (2012). "faktor dan dampak akibat dari tawuran di kalangan remaja" diunduh dari (www.dmaulidyani.blogspot.com/2012/10/tawuran-antar-pelajar-yang-terjadi-di-.html), Pada 26 Desember 2013


Tidak ada komentar:

Posting Komentar