KENAKALAN REMAJA DALAM PENDIDIKAN
Arum
Putriana Dewi
IAIN Tulungagung, Jln Mayor Sujadi Timur 46 Tulungagung,
e-mail: arumputriana2@gmail.com
Abstrak
Kenakalan remaja
sekarang ini semakin meresahkan masyarakat baik di kota kota besar maupun di
desa desa kecil banyak kasus kenakalan yang dilakukan oleh remaja, maraknya
kenakalan remaja di Indonesia semakin menambah kasus kriminalitas yang
sebelumnyapun sudah banyak yang menjadikan kenakalan remaja menjadi masalah
nasional, di Indonesia sendiri kenakalan remaja sudah menjadi masalah sosial
yang sangat meresahkan masyarakat banyak karena tindakan tindakan mereka yang
sudah tidak lagi mengenal norma-norma di mayarakat.
Faktor-faktor yang menyebabkan kenakalan
remaja ada dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal, faktor internal
adalah faktor yang timbul dari dalam anak remaja tersebut sedangkan faktor
eksternal adakah faktor yang timbul karena kondisi lingkungan didalam kenakalan
remaja sendiri masih banyak jenis tindakan kriminal yang biasanya dilakukan
oleh anak-anak remaja yaitu pencurian, penipuan, pembunuhan, penyalah gunaan
narkoba dan tawuran.
Tujuan adanya penelitianiniadalahuntuk mengetahui bagaimana proses belajar
mengajar dalam pendidikan. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah
metode kepustakaan. Data ini diperoleh dari pembacaan buku-buku Sosiologi
Pendidikan dan penelitian dibeberapa pelajar Sekolah menengah atas, sekolah
menengah bawah.Kajian ini dilakukan pada bulan juni 2015. Berdasarkan hasil
diskusi yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa 1) proses pendidikan
sangat penting bagi anak bangsa , 2) beberapa masalah yang menghambat proses
pendidikan 3) solusi untuk mengatasi permasalahan proses belajar.
Abstrack
A Juvenile delinquency is now increasingly
disturbing public both in big cities and small villages in many cases committed
by juvenile delinquency, the rise of juvenile delinquency in Indonesia
progressively increased crime cases that have previously been many who make
juvenile delinquency became a national issue, in Indonesia itself delinquency
teenagers has become a social problem that is very troubling many people
because of the actions of their actions which are no longer familiar with the
norms in society.
The factors that cause juvenile delinquency there are two internal factors and external factors, internal factors are factors that arise from within the teenage son while external factors are there factors that arise due to environmental conditions in juvenile delinquency itself there are many types of criminal activity that is usually carried out by adolescents are theft, fraud, murder, drug abuse and fighting.
The purpose of this study was to determine how the process of learning and teaching in education. The method used in this paper is the method of literature. This document is obtained from reading books sociology of education and research in several high school students, middle school down. The study was conducted in June 2015. Based on the discussions can be concluded that 1) the education process is very important for the children of the nation, 2) some of the problems that hinder the educational process 3) solution to overcome the problems of the learning process.
The factors that cause juvenile delinquency there are two internal factors and external factors, internal factors are factors that arise from within the teenage son while external factors are there factors that arise due to environmental conditions in juvenile delinquency itself there are many types of criminal activity that is usually carried out by adolescents are theft, fraud, murder, drug abuse and fighting.
The purpose of this study was to determine how the process of learning and teaching in education. The method used in this paper is the method of literature. This document is obtained from reading books sociology of education and research in several high school students, middle school down. The study was conducted in June 2015. Based on the discussions can be concluded that 1) the education process is very important for the children of the nation, 2) some of the problems that hinder the educational process 3) solution to overcome the problems of the learning process.
Kata Kunci: Kenakalan remaja dalam Pendidikan , Pandangan Kriminolog dan Solusinya.
Pendahuluan
Pendidikan pada saat ini sedang menghadapi berbagai
macam masalah. Globalisasi yang melanda dunia yang diikutidenganperkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan yang sangat pesat, telahmengakibatkanterjadinyaperubahan
di segalabidang. Dengan adanya perubahan itu dunia pendidikan diharuskan dan dituntut
dapat memberikan kontribusi riil yang berupa kemampuan peningkatan kualitas
hasil, pelayanan pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat. Salah
satu masalahnya adalah kenakalan remaja. Dengan adanya permasalahan ini proses
belajar mengajar mengalami hambatan.
Para remaja adalah
generasi penerus dari bangsa. danpara remaja semestinya harus di agar memiliki
kemampuan untuk meneruskan memimpin bangsa supaya dapat bersaing dengan negara
maju. Namun apa jadinya jika kaum remaja yang semestinya jadi penerus bangsa
malah berkelakuan melenceng dari norma-norma masyarakat, itulah sering kita
temui saat ini banyak kaum remaja yang melanggar norma yang telah di tentukan
di masyarakat atau biasa kita sebut kenakalan remaja tidak hanya di kota-kota
besar saja kita biasa temui, namun di desa-desa pun sekarang banyak kita jumpai
kasus kenakalan remaja.
Kenakalan remaja
semestinya harus di tangani dengan cepat supaya kenakalanya tidak menjadi
ekstrim. Karena tindakan yang sudah jelas sudah melanggar norma agama. Karena
telah kita ketahui bahwa kenakalan ramaja bisa menurunkan moral diri kita atau
pun bangsa kita, maka dari itu perlu tindak nyata untuk membrantas kenakalan
remaja.Kenakalan membuat resah
bayak orang ataupun khalayak banyak itu sudah termasuk masalah sosial termasuk
kenakalan remaja yang banyak melibatkan anak-anak muda yang sudah tidak
mengenal lagi norma-norma di masyarakat yang biasanya bersifat merusak, tentu
hal ini tidak bisa dimaklumi, hal ini harus di tindak lanjuti dengan cepat.
MetodePenulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan studi ini adalah kepustakaan. Data primer
diperoleh dari pembacaan buku-buku sosiologi pendidikan dan penelitian pada
beberapa pelajar sekolah menengah atas dan sekolah menengah bawah. Kajian
dilakukan pada bulan juni 2015 dengan melibatkan beberapa teman yang membantu
tercapainya penulisan jurnal sosiologi pendidikan ini. Pada tahap awal, penulis
berupaya mengumpulkan materi dari berbagai bidang yang menyangkut pendidikan
dan sosiologi yang berkembang, kemudian disusun dalam bentuk naskah teks.
Hasil kajian
dan pembahasan
Pendidikan merupakan suatu proses perkembangan
kecakapan seseorang dalam bentuk sikap dan perilaku yang berlaku dalam
masyarakat dan proses sosial di mana seseorang dipengaruhi oleh suatu
lingkungan yang terpimpin misalnya sekolah sehingga dia dapat mencapai
kecakapan sosial dan mengembangkanya.
Menurut Undang-undang Sisdiknas No. 20
tahun 2003, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan pross pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan
yang diperlukan dirinya dan masyarakat (Undang-Undang
RI No. 20 Tahun 2003).
Tujuan Pendidikan merupakan salah satu faktor yang terpenting di dalam pendidikan, karena
tujuan adalah merupakan salah satu arah yang hendak dicapai atau yang hendak
dituju oleh pendidikan. Begitu juga dengan penyelenggaraan pendidikan yang
tidak dapat dilepaskan dari sebuah tujuan yang hendak dicapaianya. Tujuan
pendidikan adalah meningkatkan derajat kemanusiaan manusia (Tafsir, 2006: 47).
Tujuan pendidikan nasional perumusannya
dapat memberikan arah yang jelas bagi setiap usaha pendidikan di negara
Republik Indonesia. Untuk dapat mencapai tujuan pendidikan nasional tersebut,
dibutuhkan adanya lembaga-lembaga pendidikan yang masing-masing mempunyai
tujuan tersendiri, yang selaras dengan tujuan nasional. Oleh karena itu, setiap
usaha pendidikan di Indonesia tidak boleh bertentangan dengan tujuan pendidikan
nasional, bahkan harus menopang atau menunjang tercapainya tujuan tersebut.
(Zuhairini, Abdul Ghofir, 2002).
Pendidikan usia dini (PAUD) maupun Taman Kanak-Kanak
(TK), anak-anak Indonesia sudah harus mulai diajarkan materi agama di sekolah,
ketika usia SD/MI sampai Perguruan Tinggi (PT), tetap diharuskan ada mata
kuliah Civic Education. Tetapi riil
di lapangan kita masih banyak melihat para siswa mencontek, curang, bolos,
tawuran antar siswa, ngebut-ngebutan. Kenakalan remaja ini merupakan hambatan
untuk proses belajar mengajar disekolah. Pada saat ini juga banyak remaja
yang keluar dari dunia pendidikan tetapi
malah memilih untuk bekerja, disamping itu pemikiran belum stabil karena masa
remaja adalah masa dimana
seorang manusia sedang berada dalam pencarian jati dirinya, ingin mengenal siapa
dirinya sebenarnya. Seorang manusia dikatan remaja, jika ia sudah menginjak
usia 17 tahun. Dan dalam usia ini, seorang manusia mengalami masa yang
dinamakan masa pubertas. Saat pubertas, biasanya manusia ingin mencoba segala
suatu yang baru dalam hidupnya, muncul berbagai macam gejolak emosi, dan banyak
timbul masalah baik dalam keluarga maupun lingkungan sosialnya.
Menurut ahli sosiologi
Kartono, Kenakalan Remaja atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah
juvenile delinquency merupakan gejala patologis sosial pada remaja yang
disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial. Akibatnya, mereka mengembangkan
bentuk perilaku yang menyimpang. Sedangkan menurut Santrock “Kenakalan remaja
merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima
secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal.”
Bentuk kenakalan remaja lainnya yang meresahkan masyarakat antara lain : Narkoba, free sex, tawuran, pergaulan bebas, dll. Kenakalan remaja kebanyakan dilakukan oleh mereka yang gagal dalam mengembangkan emosi jiwanya, mereka tidak bisa menahan diri terhadap hala baru yang masuk ke dalam dirinya, yang menimbulkan sikap yang tidak seharusnya dilakukan.
Bentuk kenakalan remaja lainnya yang meresahkan masyarakat antara lain : Narkoba, free sex, tawuran, pergaulan bebas, dll. Kenakalan remaja kebanyakan dilakukan oleh mereka yang gagal dalam mengembangkan emosi jiwanya, mereka tidak bisa menahan diri terhadap hala baru yang masuk ke dalam dirinya, yang menimbulkan sikap yang tidak seharusnya dilakukan.
Karakteristik
perkembangan emosi remaja sejalan dengan perkembangan masa remaja itu sediri,yaitu
sebagai berikut :
1.
Perubahan fisik tahap awal pada periode praremaja disertai sifat kepekaan
terhadap rangsangan dari luar menyebabkan respons berlebihan sehingga mereka
mudah tersinggung dan cengeng,tetapi juga cepat merasa senang atau bahkan
meledak-ledak.
2.
Perubahan fisik yang semakin jelas pada periode remaja awal menyebabkan mereka
cenderung menyendiri sehingga tidak jarang merasa terasing,kurang perhatian
dari orang lain,atau bahkan merasa tidak ada orang yang mau mempedulikannya.
3.
Periode remaja sudah semakin menyadari pentingnya nilai-nilai yang dapat
dipegang teguh sehigga jika melihat fenomena yang terjadi dimasyarakat yang
menunjukkan adanya kontradiksi dengan nilai-nilai moral yang mereka ketahui
menyebabkan remaja seringkali secara emosional ingin membentuk
nilai-nilai mereka sendiri yang mereka anggap benar,baik,dan pantas untuk
dikembangkan di kalangan mereka sendiri.Lebih-lebih jika orang tua atau orang
dewasa disekitarnya ingin memaksakan nilai-nilainya.
4.
Periode remaja akhir mulai memandang dirinya sebagai orang dewasa dan mulai
mampu menunjukkan pemikiran,sikap,dan perilaku yang semakin dewasa.Oleh sebab
itu,orang tua dan masyarakat mulai memberikan kepercayaan yang selayaknya
kepada mereka.Interaksi dengan orang tua juga menjadi semakin lebih bagus dan
lancar karena mereka sudah semakin bebas penuh serta emosinya pun mulai stabil.
Faktor-faktor yang mennyebabkan Terjadinya
Kenakalan Remaja
Kenakalan remaja adalah
suatu tindakan yang dilakukan oleh remaja dan tindakanya sudah melewati
norma-norma yang telah di tentukan di masyarakat. Dan suatu wujud dari konflik
yang tidak terselesaikan dengan baik pada masa kanak-kanak maupun pada saat
remaja.Kenakalan remaja adalah pelampiasan masalah yang dihadapi oleh kalangan
remaja yang tindakannya menyimpang.
Sebenarnya, kenakalan
remaja bisa di minimalisir dari pihak sekolah dan pihak orang tua. Pada umumnya
kenakalan remaja di pengaruhui oleh dua faktor yaitu faktor kurangnya
pendidikan spiritual dan moral dan faktor lingkungan sekolah yang tidak nyaman
dan aman.
Kurangnya pendidikan
spiritual dan moral sangat mempengaruhi perilaku si anak karena dia kurang di
berikan tentang pentingnya melakukan hal yang bersifat kebaikan, kebanyakan di
sekolah hanya diberikan pelajaran mengenai bahasa, matematika dan ekonomi tanpa
memperdulikan pendidikan moral, tanpa pendidikan spiritual dan moral ini remaja
akan lebih mudah terpengaruh dengan hal-hal buruk yang sifatnya merusak seperti
tawuran antar pelajar, perkelahian dan pencurian.
Lingkungan sekolah yang
tidak nyaman. Maksudnya adalah ketidakcocokan si anak dengan peraturan di
sekolah tersebut ataupun banyak teman-temanya di sekolah yang kerap berantem,
hal tersebut sagat mempengaui perilaku si anak tersebut, contohnya jika di
sekolahan tersebut kerap ada pemerasan dari kakak kelas kepada bawahanya hal
tersebut akan membawa pikiran dari si anak yang di peras ini memiliki rasa
balas dendam dan balas dendam tersebut di lampiaskan kepada bawahanya lagi
setelah dia sudah menjadi senior dan terus berulang, maka dari itu pihak
sekolah semestinya harus memantau siswanya lebih ketat lagi.
Faktor
lain yang diantaranya Kenakalan remaja itu terjadi karena beberapa faktor, bisa
disebabkan dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar
(eksternal).
1. Faktor Internal (diri sendiri)
- Krisis identitas: Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.
- Kontrol diri yang lemah: Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku ‘nakal’. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.
2. Faktor Eksternal (dari luar)
Keluarga dan Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar
anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku
negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan
anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi
anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.
Pengaruh Keluarga Broken Home pada Anak
1. Perkembangan Emosi Anak
Adapun dampak pandangan kelurga broken home terhadap perkembangan emosi remaja menurut Wilson Madeah (1993 : 42) adalah : Perceraian orang tua membuat terpramen anak terpengaruh, pengaruh yang tampak secara jelas dalam perkembangan emosi itu membuat anak menjadi pemurung, pemalas (menjadi agresif) yang ingin mencari perhatian orang tua / orang lain. Mencari jati diri dalam suasana rumah tangga yang tumpang dan kurang serasi
2. Perkembangan Sosial Anak
Menurut Brim (dalam Elida Prayitno. 2006 : 81) “Tingkah laku sosial kelompok yang memungkinkan seseorang berpartisipasi secara efektif dalam kelompok atau masyarakat.
Dampak keluarga Broken Home terhadap perkembangan sosial Anak menurut Sunggih D Gunawan 1995 : 108 adalah :
Perceraian orang tua menyebabkan tumbuh pograan infenority terhadap kemampaun dan kedudukannya, dia merasa rendah diri menjadi takut untuk meluarkan pergaualannya dengan teman-teman.
3. Perkembangan Kepribadian Anak
Perceraian ternyata memberikan dampak kurang baik terhadap perkembangan kepribadian anak.\Menurut Westima dan Haller (dalam Syamsyu Yusuf 2001 : 99) yaitu bahwa remaja yang orang tuanya bercerai cenderung menunjukkan ciri-ciri :
a. Berpilaku nakal
b. Mengalami depresi
c. Melakukan hubungan seksual secara aktif
d. Kecenderungan pada obat-obat terlarang
4. Mengatasi Broken Home
1.Berpikir positif
2.Mencoba hal-hal baru
3.Cari tempat untuk berbagi
1. Perkembangan Emosi Anak
Adapun dampak pandangan kelurga broken home terhadap perkembangan emosi remaja menurut Wilson Madeah (1993 : 42) adalah : Perceraian orang tua membuat terpramen anak terpengaruh, pengaruh yang tampak secara jelas dalam perkembangan emosi itu membuat anak menjadi pemurung, pemalas (menjadi agresif) yang ingin mencari perhatian orang tua / orang lain. Mencari jati diri dalam suasana rumah tangga yang tumpang dan kurang serasi
2. Perkembangan Sosial Anak
Menurut Brim (dalam Elida Prayitno. 2006 : 81) “Tingkah laku sosial kelompok yang memungkinkan seseorang berpartisipasi secara efektif dalam kelompok atau masyarakat.
Dampak keluarga Broken Home terhadap perkembangan sosial Anak menurut Sunggih D Gunawan 1995 : 108 adalah :
Perceraian orang tua menyebabkan tumbuh pograan infenority terhadap kemampaun dan kedudukannya, dia merasa rendah diri menjadi takut untuk meluarkan pergaualannya dengan teman-teman.
3. Perkembangan Kepribadian Anak
Perceraian ternyata memberikan dampak kurang baik terhadap perkembangan kepribadian anak.\Menurut Westima dan Haller (dalam Syamsyu Yusuf 2001 : 99) yaitu bahwa remaja yang orang tuanya bercerai cenderung menunjukkan ciri-ciri :
a. Berpilaku nakal
b. Mengalami depresi
c. Melakukan hubungan seksual secara aktif
d. Kecenderungan pada obat-obat terlarang
4. Mengatasi Broken Home
1.Berpikir positif
2.Mencoba hal-hal baru
3.Cari tempat untuk berbagi
- Teman sebaya yang kurang baik
Contoh
dari teman sebaya yang kurang baik adalah dari faktor perbedaan persepsi atau
pendapat, misalnya berbeda pendapat dengan anak yang lain mereka tanpa kpmpromi
hal itulah yang menyebabkan tawuran antar pelajar bisa terjadi, pelajar yang
semestinya belajar malah menjadikan tawuran sebagai kebiasaan. Terkadang juga
ada anak yang tidak suka dengan temannya lalu ia menjelek-jelekan temannya itu
kepada teman lainnya.
- lingkungan tempat tinggal yang kurang baik.
lingkungan kurang tepat yang menyebabkan si anak terpengaruh dari
pergaulan teman-temanya ataupun lingkunganya karena jika si anak sudah
terpengaruh dalam pergaulan yang dia jalani susah untuk merubahnya lagi seperti
contohnya jika si anak tersebut berteman atau tinggal di tempat berkumpulnya
para pencuri secara otomatis si anak tersebut akan meniru perilaku mencuri yang
di lakukan seperti para temanya.
Sedangkan
menurutKumpferdan Alvarado, FaktorfaktorPenyebabkenakalanremajaantara
lain :
a. Kurangnyasosialisasidariorangtuakeanakmengenainilai-nilai moral
dansosial
b. Contohperilaku yang ditampilkanorangtua (modeling) di
rumahterhadapperilakudannilai-nilai anti-sosial.
c.Kurangnyapengawasanterhadapanak (baikaktivitas, pertemanan di
sekolahataupun di luarsekolah, danlainnya).
d. Kurangnyadisiplin yang diterapkanorangtuapadaanak.
e. Rendahnyakualitashubunganorangtua-anak.
f. Tingginyakonflikdanperilakuagresif yang terjadidalamlingkungankeluarga.
g. Kemiskinandankekerasandalamlingkungankeluarga.
h. Anaktinggaljauhdariorangtuadantidakadapengawasandarifigurotoritas
lain.
i. Perbedaanbudayatempattinggalanak, misalnyapindahkekota lain
ataulingkunganbaru.
j. Adanyasaudarakandungatautiri yang menggunakanobat-obatterlarangataumelakukankenakalanremaja.
Cara mengatasi
kenakalan remaja dalam pendidikan maupun masyarakat
Kenakalan remaja ini
membutuhkan bantuan dari semua elemen masyarakat ikut serta dalam
penanggulangan kenekalan remaja karena kenekalan remaja banyak menimbulkan
kerugian dan kesengssaraan yang tidak hanya merugikan diri sendiri melainkan
merugikan khalayak banyak, hal inilah yang semestinya mendorong masyarakat dan
pemerintah melakukan tindakan untuk menangulangi secara kuratif. seperti
membentuk badan kesejahteraan anak-anak, perbaikan lingkungan yaitu
kampung-kampung miskin dan kumuh, mendirikan sanggar-snggar untuk remaja guna
mensosialisasikan tentang baha kenakalan remaja, menyusun undang-undang tentang
tindakan pelanggaran yang dilakukan oleh remaja, membuat sekolah untuk anak
jalanan, mendirikan tempat untuk menyalurkan kreatifitas yang di miliki remaja
dan para anak jalanan.
Di Negara-negara maju
memiliki teknik penanggulangan dengan cara Moralistic dan Abolisianistik. Cara
moralistic adalah dengan penyebarluaskan ajaran agama dan moral sedangkan cara
abolisianistik adalah berusaha memberantas kajahatan dengan memberantas sebab
musabab dari kejahatan tersebut.
Sebenarnya
masyarakat,pemerintah dan keluarga dalam penanganan kasus kenakalan remaja ini
hanya sebagai perantara atau sekedar membantu, sebenarnya kesadaran dari diri
sendiri untuk tidak melakukan kenakalan renaja itulah hal paling penting di
sini dalam upaya penanggulangan kenakalan remaja. Tetapi faktor lingkungan juga
memiliki peran yang penting karena anak remaja akan mengikuti kebiasaan dari
lingkungan tersebut. Keteladanan yang baik dari lingkungan sekitar akan membawa
anak menjadi lebih termotifasi untuk melakukan hal yang baik pula dan mampu
mengikuti hidup bermasyarakat.
Memberikan
pendidikan yang sesuai adalah merupakan salah satu tugas bagi orangtua kepada
anak,agar anak dapat memperoleh pendidikan yang sesuai, pilihkanlah sekolah
yang bermutu. Selain itu, perlu dipikirkan pula latar belakang agama pengelola
sekolah. Hal ini penting untuk menjaga agar pendidikan agama yang telah
diperoleh anak di rumah tidak kacau dengan agama yang diajarkan di sekolah.
Berilah pengertian yang benar tentang adanya beberapa agama di dunia.Ketika
anak telah berusia 17 tahun atau 18 tahun yang merupakan akhir masa remaja,
anak mulai akan memilih perguruan tinggi. Orangtua hendaknya membantu
memberikan pengarahan agar masa depan si anak berbahagia. Arahkanlah agar anak
memilih jurusan sesuai dengan kesenangan dan bakat anak, bukan semata-mata
karena kesenangan orang tua. Masih sering terjadi dalam masyarakat, orangtua
yang memaksakan kehendaknya agar di masa depan anaknya memilih profesi tertentu
yang sesuai dengan keinginan orangtua. Pemaksaan ini tidak jarang justru akan
berakhir dengan kekecewaan. Sebab, meski memang ada sebagian anak yang berhasil
mengikuti kehendak orangtuanya tersebut, tetapi tidak sedikit pula yang kurang
berhasil dan kemudian menjadi kecewa, frustrasi dan akhirnya tidak ingin
bersekolah sama sekali. Mereka malah pergi bersama dengan kawan-kawannya,
bersenang-senang tanpa mengenal waktu bahkan mungkin kemudian menjadi salah
satu pengguna obat-obat terlarang.
Kesimpulan
Dari analisis di atas
dapat kita simpulkan bahwa
1.
kenakalan remaja adalah cerminan dari perbuatan orang dewasa juga
sehingga anak remaja sering meniru perbuatan apa yang di lakukan oleh orang
dewasa dan juga lingkungan di mana mereka hidup setiap hari di lingkungan
tersebut, jika lingkungan tersebut tidak baik atau sering terjadai kekerasan
maka perbuatan itu akan di tiru juga oleh para anak remaja.
2.
Ada dua faktor yang menyebabkan kenakalan remaja faktor eksternal,
selain faktor tersebut ada juga faktor internal, yaitu faktor yang berasal dari
dalam hati nurani si korban tersebut. Tentu pemerintah dan masyarakat
membutuhkan upaya yang lebih keras dalam memerangi kenakalan remaja di
Indonesia guna memwujudkan generasi emas. Guna memberantas masalah tersebut, anak
remaja itu sendiri semestinya harus melakuan inrtopeksi diri atas semua hal
yang yang telah dilakukan itu adalah salah.
3.
Pemerintah, masyarakat, orang tua dan diri sendiri juga memiliki
tugas yang amat besar salah satunya adalah membangun tempat tempat untuk
melakukan sosialiasi untuk memberitahu kepada para remaja tentang bahayanya
tindakan kenakalan remaja dan kriminalitas. Sehingga para anak remaja
mengetahui mana yang salah dan mana yang baik sehingga kenakalam remaja dapat
di minimalisir. Setidaknya jika para penerus banggsa ini bersih dan paham mana
yang salah dan mana yang benar mungkin bangsa ini bisa lebih baik dari
sekarang.
Daftar Rujukan
Drs. Sudarsono. S.H., M. (2004).
Kenakalan Remaja. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Ghofir, Zuhairini Abdul, 2001. Metodologi
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, Malang: UM Press
S. Nasution. 2014. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: PT Bumi
Aksara
Tafsir, Ahmad, 2006. Filsafat Pendidikan Islam: integrasi Jasmani, Rohani
Dan Kalbu Memudahkan Manusia, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Dave. (2013). "faktor penyebab
kenakalan remaja” diunduh dari (http://memswave2012.org/faktor-penyebab-kenakalan-remaja/),
Pada 23 Desember 2013
Maulidyani, D. (2012). "faktor dan dampak akibat dari tawuran di kalangan remaja"
diunduh dari
(www.dmaulidyani.blogspot.com/2012/10/tawuran-antar-pelajar-yang-terjadi-di-.html),
Pada 26 Desember 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar