Etika Kepemimpinan Amr Ma’ruf Nahi Munkar
Secara umum kepemimpinan adalah suatu proses untuk memengaruhi atau memberi contoh dari seorang pemimpin kepada pengikutnya (bawahannya) dalam upaya untuk mencapai tujuan yang efektif dan efesien. Tak jauh beda pengertian kepemimpinan dalam perspektif Islam yang menunjukkan pada pola atau gaya dari sebuah kepemimpinan Nabi Muhammad SAW yang hanya bertujuan untuk memperoleh ridho dari Allah SWT. Kepemimpinan Nabi Muhammad dalam mengembangkan sebuah kepemimpinan yang paling ideal dan paling sukses dalam sejarah peradaban umat. (Michael H. Hart : 1994). Beliau Nabi Muhammad mampu mempengaruhi orang lain atau pengikutnya dengan cara mengilhami, menyadarkan tanpa menyakiti, dan mengajak tanpa memerintah. Menurut Hendricks, Ludeman dan Tjahjono kepemimpinan religius adalah kepemimpinan yang mampu mengilhami, membangkitkan, mempengaruhi dan menggerakkam melalui keteladanan, pelayanan, kasih sayang dan implementasi nilai dan sifat-sifat ketuhanan lainnya dalam tujuan, proses, budaya dan perilaku kepemimpinan. Hal tersebut sesuai dengan gaya dan pola dari kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Tapi, semakin berkembangnya zaman yang mulai tua etika yang ada dalam kepemimpinan sudah mulai merosot. Merosotnya etika kepemimpinan yang religius ini disebabkan oleh masuknya budaya-budaya luar yang masuk ke Indonesia. Memang budaya yang masuk ke Indonesia itu tidak hanya memiliki dampak negatif tapi disisi lain juga memiliki dampak positif tetapi masyarakat kita tidak bisa memfilter budaya-budaya yang mempunyai dampak negatif. Mereka malah terjerumus kedalamnya, khususnya pada kalangan muda-mudi Indonesia mereka lebih mengikuti budaya luar yang mempunyai dampak negatif . Padahal nantinya kalangan muda akan menjadi seorang pemimpin tetapi kalangan muda sekarang mempunyai etika yang kurang sopan dan sangat sulit untuk diingatkan. Mereka sudah kehilangan nilai-nilai dasar pada budaya kita. Sebab itu, kita sebagai kalangan muda yang tidak terkena dampak negatif budaya luar kita harus melahirkan kembali etika dan moral dalam kepemimpinan sesuai dengan Islam. Sebab, budaya Islam telah mengajarkan bagaimana sikap-sikap yang bermoral dan beretika yang etis. Kepemimpinan sesuai dengan syari’at Islam berdasrkan Rukun Islam dan Rukun Iman (Agustian : 2001). Prinsip dari kepemimpinan yang bermoral dan beretika ini lebih menuju pada tujuan yang bersifat Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Kepemimpinan ini berbasis pada etika yang etis seperti : kejujuran hati, menegakkan keadilan, disiplin, beriman dan dan berilmu serta mempunyai tujuan yang yang kuat.
Yang pertama etika para pemimpin yang religius sukses dalam mengembangkan visi dan misinya kejujuran hati dalam melaksanakan tugas yang mereka tanggung. Sebab kejujuran dari hati dapat membatu dan menyelamatkan hidup seseorang karena telah melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Seorang pemimpin yang mempunyai sifat-sifat amar ma’ruf nahi munkar insyaallah akan selalu berhasil dalam setiap langkahnya, walaupun dalam tengah-tengah perjalanan terkadang terdapat sedikit keganjalan tetapi selalu ada jalan untuknya. Karena, Allah mempunyai sifat-sifat yang tidak dimiliki makhluknya. Allah tidak tidur, Allah maha melihat, Allah maha mendengar, maha mengetahui apa yang yang telah kita lakukan didunia. Jadi, kalau kita melaksanakan sebuah kepemimpinan dengan amar ma’ruf nahi munkar secara ikhlas maka niscaya Allah akan selalu dekat dengan kita. Kedua etika yang dimiliki seorang pemimpin adalah bisa menegakkan suatu keadilan, baik itu kepemimpin dalam sebuah keluarga, organisani, maupun lembaga. Seorang pemimpin dalam mengemban tugas untuk tetap menegakkan sebuah keadilan yaitu dimulai dari diri sendiri, lalu kepada keluarga, dan kepada orang lain. Kenapa harus dimulai dari sendiri??? Karena, apabila seorang pemimpin itu tidak bisa menegakkan keadilan terhadap dirinya sendiri, maka dia belum bisa menata dan mengatur jalan hidupnya. Dia harus bisa menjaga sikap untuk ditinjukkan kepada Allah SWT, kepada orang lain maupun kepada diri sendiri. Pada kepemimpinan Rasululloh pun keadilan sudah ditegakkan. Yang ketiga dari etika berkepimpinan adalah disiplin. Tak lain halnya dengan penegakkan keadilan, disiplin juga menjadi hal yang penting dalam sebuah kepemimpinan. Jika seorang pemimpin tidak bisa mendisiplinkan dirinya sendiri, bagaimanakah dia akan mendisiplinkan anggota atau bawahannya. Mungkin hal yang mustahil bila seorang pemimpin bisa mendisiplinkan anggotanya tapi dia tidak bisa. Dan hal tersebut belum bisa dikatakan amar ma’ruf nahi munkar. Jika seorang pemimpin itu mempunyai disiplin yang tinggi maka beliau akan melahirkan anggota-anggota yang seperti sifat yang dia miliki. Melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar itu sebenarnya tidak sulit, hanya keikhlasan yang dibutuhkan. Tetapi hal ini tergantung kesadaran dari diri masing-masing. Etika kepemimpinan selanjutnya ialah beriman dan berilmu, kenapa demikian karena Setiap umat muslim diwajibkan untuk menuntut ilmu. Seperti sabda Rasulullah SAW: “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan”. Allah menjelaskan tentang kemuliaan orang yang beriman dan berilmu dalam al-Qur`an surat Al-Mujaadilah ayat 11 : “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. Selain itu Allah akan memudahkan jalannya bagi orang-orang yang beriman dan berilmu. Sebab pemimpin harus mempunyai pemikiran intelektual dan tetap bersifat fleksibel. Dan etika yang terakhir adalah pemimpin tersebut mempunyai tujuan yang kuat, maksudnya pemimpin disini menggerakkan suatu golongan untuk menjadi yang lebih baik kedepannya bukan hanya mempengaruhi golongannya tapi terlebih untuk mengemban visi dan misi pada golongannya. Mungkin dalam sebuah kepemimpinan jika kita terapkan etika amar ma’ruf nahi munkar mungkin hal ini akan memperbaiki keadaan kepemimpinan yang etika dan moralnya mulai merosot.
Menurut saya etika kepemimpin yang paling saya sukai adalah kepemimpina dari seorang Gus Dur. Kepemimpinan beliau dihitung-hitung memang pendek tapi mempunyai beliau mempunyai karakter yang unik dalam memimpin suatu bangsa, diantaranya berfikir rasional, demokratis, reformis, cuek pada hal-hal yang bersifat keduniawian. Terkadang beliau berani mengutarakan pendapatnya kepada public tentang karakter yang menempati jabatan atas dinegara Indonesia. Sebagai pemimpin, Beliau mempunyai kecerdasan diatas rata-rata, beliau seorang intelektual tinggi yang bisa mengemban tugas negara dengan baik, Beliau juga seorang pejuang Islam yang menegakkan suatu keadilan dengan mempreoritaskan orang-orang yang tidak mampu daripada dia kalangan atas. Terkadang amplop yang beliau dapat dari hasil kerjanya, beliau kasihkan kepada orang-orang yang tidak mampu. Dan jika dalam bertindak beliau berpegang teguh pada amar ma’ruf nahi munkar. Beliau selalu memikirkan terlebih dahulu apa yang akan beliau lakukan.
Dengan adanya moral dan etika yang tidak etis dalam sebuah kepemimpinan, maka kita sebagai penerus harus bisa mengkoreksinya dengan kita sebagai generasi penerus seharusnya melahirkan etika kepemimpinan yang didasarkan pada amar ma’ruf nahi munkar. Agar bangsa ini mempunyai moral dan etika yang etis.
Terimakasih artikelnya sangat membantu
BalasHapusSangat membantu dalam pembuatan artikel saya🙏
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusIzin mengutip untuk pembuatan artikel kak
BalasHapus